Kebelet B-A-B (Buang Air Besar) Setelah Minum Kopi

0 comments
Gejala demikian amat normal. Karena selain dapat mengurangi resiko penyakit syaraf seperti Alzheimer dan Parkinson, menkosumsi kopi dalam dosis wajar (2 x sehari) juga dapat mencegah penyakit kanker usus. Boleh jadi itu terkait mengapa setelah minum kopi timbul keinginan buang air besar. Jadi, BAB setelah minum kopi itu normal.

Bagi yang suka minum kopi ada baiknya lihat & praktekan tips berikut ini :

1. Dosis
Memang belum ada ukuran yang pasti untuk dosis kopi yang boleh dikonsumsi orang. Namun kebanyakan penelitian mengungkapkan bahwa minum 300 mg caffeine (sekitar 1 sampai 3 cangkir kopi sehari) tidak memberikan efek negative pada kebanyakan orang sehat.

2. Sinyal Bahaya
Ketika mereguk kopi memang terasa nikmat, namun sering kali diikuti dengan sejuta rasa bersalah. Kenali sinyal bahaya kopi sehingga kita tahu kapan harus berhenti minum kopi. Sinyal bahaya itu antara lain: gelisah, jantung berdebar, gangguan tidur dan gangguan mood (mis: cepat marah). Seorang peminum kopi yang menghentikan kebiasaan minum kopinya dapat mengalami “caffeine withdrawal” yang ditandai oleh sakit kepala berdenyut, namun gejala ini akan hilang setelah 24-48 jam atau mendapat caffeine dosis baru.

3. Dengarkan Respon Tubuh
Setiap orang memiliki batasan sendiri mengenai konsumsi caffeine. Kebanyakan orang dapat mengkonsumsi 2 cangkir kopi sehari tanpa masalah. Namun ada pula yang mengalami efek buruknya dengan jumlah konsumsi kopi yang sama. Ada yang bercerita setelah minum secangkir kopi menjadi tak dapat tidur sepanjang malam, sebaliknya ada yang tertidur pulas setelah minum kopi. So, cara terbaik adalah dengarkan respon tubuh sendiri!

4. Kenali Kandungan Caffeine
Setelah mengetahui dosis dan respon tubuh, ada baiknya kita mengetahui kandungan caffeine dalam produk-produk yang sering kita konsumsi. Agar jangan sampai dosis kopi yang dianjurkan sudah tercapai, namun kita masih mengkonsumsi produk-produk lain yang mengandung caffeine sehingga merasakan efek buruk kopi. Beberapa produk lain yang perlu diperhatikan kandungan caffeine seperti misalnya : softdrink, permen kopi, teh, coklat, obat sakit kepala.

Cara pengolahan (roasting dan brewing) juga berpengaruh terhadap kandungan caffeine dalam kopi. Sebagai contoh, sebuah penelitian menunjukkan, secangkir kopi di Starbucks mengandung rata-rata 259 mg caffeine dibandingkan dengan kopi dengan jenis dan ukuran cangkir yang sama di Dunkin Donuts yang hanya mengandung 149 mg caffeine.

Dari penelitian lain, kopi decaf (kopi tanpa caffeine) baik untuk mereka yang mengalami obesitas karena dapat meningkatkan HDL (kolesterol “baik”) sekitar 50%. Sedangkan pada mereka yang tidak mengalami obesitas justru dapat menurunkan kolesterol HDL ini yang dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.

5. Coffee Mix
Lima milligram kalsium hilang untuk setiap 6 ons kopi yang dikonsumsi. Namun kehilangan kalsium ini dapat diatasi dengan menambahkan 2 sendok susu atau membuat espresso latte. Sedangkan campuran kopi dengan alkohol kurang baik terutama pada orang dengan gangguan hati dan campuran kopi dengan cream juga sebaiknya dihindari untuk mengurangi kalori yang berlebih. Caffeine juga berinteraksi dengan beberapa jenis obat. Bagi yang sedang mengkonsumsi obat, sebaiknya konsultasikan ke dokter.

Banyak yang beranggapan teman terbaik kopi adalah rokok. Eits, jangan salah. Seorang peminum kopi sejati tidak merokok! Rokok dapat mengurangi nikmatnya ngopi lho…

6. Kelompok Anti-Kopi
Kelompok berikut disarankan untuk menghindari kopi: wanita hamil, anak-anak, orang tua, orang dengan penyakit jantung dan pembuluh darah (mis: hipertensi). Nah, kalau sudah termasuk kelompok ini, lupakan kopi!

7. Check Up
Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kesehatan, dalam hal ini adalah ukuran tekanan darah. Semakin dini hipertensi diketahui, akan semakin baik untuk penatalaksanaan selanjutnya.


Sulit Tidur, Insomnia-kah?

0 comments
Mungkin Anda termasuk dalam 40 persen orang dewasa yang mengalami insomnia, gangguan tidur yang sangat umum terjadi seperti yang ada di Amerika. Gangguan ini mencangkup kesulitan untuk tertidur, terbangun dan sulit sekali untuk tidur kembali atau selalu terbangun lebih awal.

Jika ini hanya berlangsung beberapa hari disebut dengan insomnia sementara, jika beberapa minggu disebut dengan insomnia jangka pendek. Masalah ini akan menjadi kronis jika terjadi pada setiap malam dalam seminggu dan baru berakhir setelah sebulan atau bahkan lebih.

Bentuk yang paling umum dari insomnia yaitu insomnia yang terus bertambah, di mana beberapa kali kejadian sulit tidur akan menimbulkan kegelisahan dan jika terjadi terus menerus akan memperparah rasa sulit untuk bisa tidur.

Insomnia itu sendiri bukanlah suatu penyakit tetapi lebih tepatnya adalah suatu gejala dari masalah lain atau beberapa masalah lain entah itu fisik, emosi atau tingkah laku.

Temukan apa yang menyebabkan Anda harus menghabiskan malam tanpa bisa memejamkan mata dan pelajari bagaimana agar Anda bisa tertidur kembali. Biang dari insomnia ini antara lain:

* Stres

Banyak ahli yang menganggap ini sebagai penyebab utama gangguan tidur jangka pendek. Pemicu stres ini antara lain tekanan pekerjaan, masalah pernikahan, penyakit kronis atau adanya kematian dalam keluarga. Biasanya insomnia akan hilang ketika situasi yang membuat stres ini berakhir.

Jika hormon stres tetap diproduksi pada waktu Anda akan tidur, mereka akan menghambat produksi melatonin, suatu hormon yang mengatur ritme circadian (semacam arloji 24 jam di tubuh Anda). Stres tingkat tinggi bisa juga menghambat efek pemulihan dari hormon pertumbuhan yang membantu pembuatan sel-sel baru.

* Alkohol dan kafien

Kebanyakan kafein atau alkohol, terutama jika dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur, akan merusak tidur malam yang nyenyak. Kafien, suatu zat perangsang yang membuat susah untuk tertidur. Efeknya akan terus bertahan selama 10 jam setelah Anda mengkonsumsinya, terutama pada orang tua dimana metabolismenya lebih lambat. Dan meski alkohol adalah zat penenang dan mampu membantu Anda jatuh tertidur dengan cepat, alkohol akan mengacaukan tidur nantinya ketika efek dari alkohol sudah hilang.

* Sakit dan kondisi medis kronis

Beberapa orang tidak bisa tidur nyenyak karena suatu kondisi medis yang membuat mereka tidak nyaman. Rasa sakit akibat radang sendi, rasa panas dalam perut, luka di punggung dan sakit kepala dapat membuat Anda terbangun dan sulit untuk tidur kembali. Pada penelitian secara acak pada orang dewasa di Amerika, dilaporkan seperempatnya menderita sakit yang mengganggu tidur mereka dalam 10 malam atau lebih per bulannya. Kondisi kronis seperti parkinson dan diabetes membuat Anda sulit untuk tertidur karena akan terjaga semalaman.

* Naik dan turunnya produksi hormon wanita

Di awal dan akhir dari siklus menstruasi, kadar hormon progesteron yang rendah dapat menyebabkan sulit untuk tidur. Jika Anda menganggap hormonlah yang menyebabkan gangguan tidur, buatlah semacam catatan harian tidur Anda dalam satu bulan. Hal ini dapat membantu Anda menentukan pada periode mana, Anda harus menghindari konsumsi kafein, alkohol dan lainnya yang dapat memperparah gangguan tidur ini. Selama menopause, fluktuasi kadar estrogen dapat menyebabkan kesulitan tidur. Terapi penggantian estrogen seringkali dapat membantu.

* Obat-obatan

Obat tertentu seperti corticosteroid dan beberapa obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi, asma dan depresi dapat mengganggu tidur. Begitu juga obat untuk kelenjar gondok jika dosisnya terlalu tinggi. Banyak obat-obatan umum termasuk obat untuk mengatasi hidung mampat dan obat untuk menurunkan berat badan, mengandung zat perangsang seperti pseudoephedrine dan beberapa formula dari aspirin juga mengandung kafein. Jika Anda mengalami gangguan tidur, cek kembali obat-obat Anda dengan bantuan dokter.

* Depresi

Peneliti di laboratorium yang khusus mengamati tentang tidur menemukan adanya ketidaknormalan tidur pada orang yang mengalami depresi, termasuk berkurangnya periode tidur slow-brain-wave dan sebuah gangguan awal pada bagian pertama dari tidur REM. Peneliti menunjukkan sebanyak 90% dari orang yang menderita depresi menderita gangguan tidur. Hal ini dapat mencangkup dari masalah terbangun lebih awal sampai kelebihan tidur. Obat anti depresi dapat membantu masalah ini.

sumber: www.indonesiaindonesia.com

Masturbasi? Berbahayakah?

0 comments
MASTURBASI adalah rangsangan pada area genital diri sendiri untuk menggapai kepuasan seks, biasanya dengan tujuan orgasme. Tak disangkal, masturbasi menjadi pengalaman seks pertama kebanyakan pria dan wanita.

Masturbasi umumnya dilakukan dengan menyentuh, mendorong, atau memijat Mr P atau klitoris hingga orgasme tercapai. Sebagian wanita juga melakukan rangsangan Miss V atau menggunakan sex toys, seperti vibrator.

Apakah masturbasi itu normal?

Meskipun pernah dianggap sebagai penyimpangan dan masalah mental, masturbasi kini dianggap normal, aktivitas seks sehat yang menyenangkan, memuaskan, diterima, dan aman. Masturbasi adalah cara yang baik untuk Anda bisa merasakan kenikmatan seks.

Masturbasi dianggap sebuah masalah hanya jika hal ini menghalangi aktivitas seksual bersama pasangan, dilakukan di tempat umum, atau menyebabkan keadaan berbahaya pada pelakunya.

Masturbasi bisa jadi berbahaya jika dilakukan secara kompulsif/menganggu kehidupan dan aktivitas sehari-hari.

Apakah masturbasi berbahaya?

Umumnya, dunia medis mengganggap masturbasi adalah ekspresi alami dan tidak berbahaya terhadap seksualitas pria dan wanita. Masturbasi tidak menyebabkan luka fisik atau menyakiti tubuh, dan bagian dari perilaku seksual yang normal.

Sebagian ahli menegaskan, masturbasi bisa benar-benar meningkatkan kesehatan seks. Dengan mengeksplorasi tubuh lewat masturbasi, Anda bisa menentukan apa yang secara erotis bisa memuaskan Anda dan ini bisa Anda bagi ke pasangan.

Bahkan, sebagai pasangan memanfaatkan masturbasi bersama untuk menemukan teknik-teknik hubungan seks yang lebih memuaskan dan menambah intimasi.

Meski demikian, sebagian budaya dan keyakinan menentang pemanfaatan masturbasi, bahkan memberi label “penuh dosa”. Banyak pula pengakuan, masturbasi mengundang perasaan bersalah bagi pelakunya. Masa????

Turunnya Pasaran, Setelah Menikah?

0 comments
Maksudnya??? Ya, adanya batasan perilaku atau pergaulan setelah Nuptials Event (nikah) membuat sang Suami atau Istri kehilangan kesempatan yang pernah didapat ketika masih lajang. Pasaran di sini adalah turunnya rating untuk lebih bisa terlihat menarik lagi di mata lawan jenis selain istri/suami.
Rasa tanggung jawab sebagai pasutri juga alasan utama seorang tidak dapat berbuat banyak saat godaan tepat di depan mata (ini pun bagi yang bertanggungjawab). Apalagi bagi pekerja kantoran yang kerap sekali melakukan praktek selingkuh dengan rekan kerja. Bukannya menuduh, tapi sudah banyak kasus yang terjadi antara bos dan sekretaris, sekretaris dengan karyawan, bahkan karyawan dengan OB.
Pada dasarnya, inti dari semuanya bukanlah masalah keinginan untuk melakukan hubungan intim (tuntutan biologis) semata. Lebih dari itu, trend ataupun eksistensi diri turut melengkapi alasan untuk melakukan selingkuh. Itulah yang menjadi patokan pasaran (eksis) seseorang dalam interaksi sosial di manapun adanya.

Sobat yang bijak,
Sungguh hanya kebodohan yang bisa dijadikan alasan dan bukan menjadi ukuran tingginya Kepercayaan diri jika praktek ini terjadi. Karena, masih banyak kegiatan atau kerjaan lain yang dapat mendongkrak pasaran di tempat kerja. Salah satunya mungkin, dengan memotivasi diri untuk terus berkarya dan membangun potensi diri untuk mencapai misi dan visi hidup yang hakiki. Dan, pada akhirnya semua kegigihan itu mendatangkan manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan orang di sekitar kita. Bukankah pasaran (eksistensi) diri akan meningkat dengan sendirinya? Tidakkah kepuasan batin akan amat terasa? Kuncinya, hormati diri sendiri sebelum kita menghormati orang lain. Mudah-mudahan feedback positif segera terlihat pada hari-hari mendatang. Dan, betapa mudahnya berbicara tanpa bukti nyata bahwa kita telah merealisasikannya. Hahaha...

Kritik dan saran yang membantu selalu penulis nantikan.

Lebih banyak Janda, daripada Duda

0 comments
Ini cuma pendapat pribadi. Survey yang saya lakukan terhadap orang-orang yang saya kenal dan berada di sekeliling saya. Bahwa, banyaknya anak-anak yang menjadi Yatim (kehilangan Ayah) selaras dengan lebih banyaknya Janda ketimbang Duda.
Dimana, para ayah (lelaki) lebih cepat berakhir hidupnya dibandingkan para ibu (perempuan). Mengapa? Usia harapan hidup pria memang lebih pendek, karena sejak lahir pria memang lebih rentan dan "fragile" dibanding wanita. Ia juga menganggap penyakit pria kurang mendapat perhatian serius, baik dari individunya maupun lingkungannya.
Secara kultural, menurut beberapa ahli, wanita juga lebih sering meminta bantuan. Sedangkan pria, sejak lahir sudah dituntut untuk bersikap kuat, tegar, dan tidak boleh cengeng. "Pria baru mencari pengobatan bila diminta pasangannya atau setelah kondisi penyakitnya bertambah buruk,".
Seandainya Sobat belum sadar akan fakta ini, maka sekarang Sobat tahu: wanita pada umumnya berumur lebih panjang. Data statistik PBB pada tahun 2006 menunjukkan bahwa angka harapan hidup rata-rata wanita di seluruh dunia lebih tinggi 4,5 tahun daripada angka harapan hidup rata-rata pria (69,5 tahun versus 65 tahun). Di Indonesia sendiri angkanya tidak jauh berbeda. Sekarang pertanyaannya: Mengapa pria yang fisiknya secara kasatmata lebih kuat ternyata malah mati lebih cepat?
Memang hidup mati seseorang sudah ada yang menentukan. Tetapi, fakta di atas bisa menjadi bahan pertimbangan kita semua untuk lebih bisa menghargai hidup. Menjaga kesehatan untuk para pria mesti lebih diperhatikan, terutama jika sering mengalami stres. Karena, memiliki tingkat stres yang tinggi sama dengan telah memesan tiket kematian lebih awal.
Faktor biologis lain yang mempengaruhi adalah hormon: Hormon estrogen yang dimiliki perempuan menjadi salah satu pelindung alami dari perkembangan penyakit jantung, dan perubahan kondisi tubuh perempuan sepanjang hidupnya (menstruasi, kehamilan, beranak, menopause) membuat tubuh mereka secara internal lebih ‘tahan banting’. Sebaliknya, hormon testosteron yang dimiliki pria malahan mendorongnya untuk melakukan berbagai aktivitas yang membuat jantung makin jedag-jedug, misalnya saja merokok, menyetir ugal-ugalan, berkelahi, atau aktif berburu pasangan.
Lho, mencari pasangan? Ya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kompetisi memperebutkan betina bisa menguras energi para pejantan, dan akhirnya memperpendek umur mereka. Contohnya bisa kita lihat di dunia binatang, seperti domba jantan yang saling adu kepala untuk memperebutkan betina. Tapi itu kan binatang? Di dunia manusia juga terjadi hal yang serupa, meski lebih halus dan kompleks. Ambisi untuk menggapai karir dan status sosial yang tinggi –yang tentu saja menjadi ‘nilai jual’ di mata pasangan dan calon mertua– bisa dijadikan contoh. Menariknya, di dunia binatang sendiri ditemukan kalau umur pejantannya semakin pendek.

Semoga mencerahkan.
Copyright © Beranda Kita - Blogger Theme by BloggerThemes