SMS Lebaran

0 comments

Salah satu kegiatan yang mustahil diabaikan adalah membalas dan mengirim SMS Lebaran. Luar biasa peran SMS ini dalam menyiapkan paket lebaran yang praktis, efisien, dan murah.

Begitu praktisnya hingga sekian silaturahmi hanya butuh sekian pencetan. Begitu efisien karena hanya dengan mengetik satu ucapan, kita bisa menduplikasi sebanyak yang kita suka. Begitu murah karena hanya cukup dengan ratusan perak, kita bisa menjangkau seseorang yang malah sedang pergi ke lain benua.

Begitulah gaibnya sebuah berkah, ia sekaligus menggandeng musibah. Karena begitu praktisnya sehingga yang praktis itu malah demikian menyita kegiatan kita. Karena gampang, seringlah kita melakukannya. Karena sering, jadilah kita selalu melakukannya. Karena selalu, jadilah waktu kita habis untuk melakukannya.

Tak aneh jika sudah jauh-jauh kita mudik, sudah capek kita muter menemui kerabat dan saudara tapi setelah bertemu, kerjan kita cuma mencet-mencet keypad handphone. Suami mencet, anak-anak mencet, istri mencet, lupalah kita pada saudara jauh yang berada di depan mata. Tapi, Oooh, saudara itu pun manusia biasa seperti kita. Jika kita ber-handphone, mereka punya juga. Jika kita mencet, mereka mencet juga. Jadi, susah-susah kita saling ketemu, akhirnya cuma saling menghabiskan waktu untuk saling pencet bagi seseorang yang jauh dan tidak sedang di depan kita. Inilah paradoks handphone, ia mendekatkan orang jauh dan menjauhkan orang dekat.

Begitu murah SMS, maka begitu gampang kita mengirim dan membalasnya. Karena gampang jadi sering, karena sering jadi selalu. Karena selalu jadi mahal. Karena mahal boroslah hidup kita hanya karena tipuan sang murah itu.

Begitu efektifnya SMS ini sebagai ganti silaturahmi. Begitu efektifnya sehingga berlaku rumus satu ucapan untuk semua. Satume, satu ucapan rame-rame. Maka, ucapan yang sampai ke saya adalah ucapan yang juga sampai ke Anda. Anda dan saya sama saja. Yang saya pun jadi kita. Dan, di dalam kita, unsur saya menjadi tak penting lagi. Ketika kita menerima ucapan generik semacam ini, ada perasaan bahwa kita cuma sebagai kita, bukan saya. Kita hanya menjadi elemen dari yang banyak. Tidak ada yang khusus dari kita.

Setiap kali kita mendengar denging SMS di handphone, kita tidak tegang lagi. Ah, paling begitu-begitu juga. Kita tersanjung atas kiriman SMS dari para sahabat, kerabat, dan saudara itu. Kita mencintai mereka dan mereka pun pasti mencintai kita. Tapi, sebagaimana layaknya orang yang mencintai, ia menolak untuk dimadu. Jika ucapan yang saya terima adalah juga ucapan yang di dikirim ke banyak manusia, apa boleh buat, saya terpaksa merasakan dilema perasaan itu: Bahagia karena dicintai sekaligus sedih karena dimadu.

Maka, ketika di antara berondongan SMS itu masih terselip nama kita di dalamnya, ada SMS yang ditulis khusus untuk kita, ia akan segera menjadi SMS yang berbeda. Ia dekat, khusus dan penuh cinta. Ia sungguh SMS yang menggoda untuk kita segera membalasnya dengan kekhususan pula.

"Jika engkau mencintai saudaramu, kenapa engkau tak menggenapi cintamu dengan mengetikkan namanya dalam SMS mu. Karena hanya dengan menambahkan nama yang tak seberapa itu, engkau akan mendapatkan cinta saudaramu dengan kualitas yang tak pernah engkau duga sebelumnya."

Inspired by Prie GS.
Copyright © Beranda Kita - Blogger Theme by BloggerThemes