Lebih banyak Janda, daripada Duda

Ini cuma pendapat pribadi. Survey yang saya lakukan terhadap orang-orang yang saya kenal dan berada di sekeliling saya. Bahwa, banyaknya anak-anak yang menjadi Yatim (kehilangan Ayah) selaras dengan lebih banyaknya Janda ketimbang Duda.
Dimana, para ayah (lelaki) lebih cepat berakhir hidupnya dibandingkan para ibu (perempuan). Mengapa? Usia harapan hidup pria memang lebih pendek, karena sejak lahir pria memang lebih rentan dan "fragile" dibanding wanita. Ia juga menganggap penyakit pria kurang mendapat perhatian serius, baik dari individunya maupun lingkungannya.
Secara kultural, menurut beberapa ahli, wanita juga lebih sering meminta bantuan. Sedangkan pria, sejak lahir sudah dituntut untuk bersikap kuat, tegar, dan tidak boleh cengeng. "Pria baru mencari pengobatan bila diminta pasangannya atau setelah kondisi penyakitnya bertambah buruk,".
Seandainya Sobat belum sadar akan fakta ini, maka sekarang Sobat tahu: wanita pada umumnya berumur lebih panjang. Data statistik PBB pada tahun 2006 menunjukkan bahwa angka harapan hidup rata-rata wanita di seluruh dunia lebih tinggi 4,5 tahun daripada angka harapan hidup rata-rata pria (69,5 tahun versus 65 tahun). Di Indonesia sendiri angkanya tidak jauh berbeda. Sekarang pertanyaannya: Mengapa pria yang fisiknya secara kasatmata lebih kuat ternyata malah mati lebih cepat?
Memang hidup mati seseorang sudah ada yang menentukan. Tetapi, fakta di atas bisa menjadi bahan pertimbangan kita semua untuk lebih bisa menghargai hidup. Menjaga kesehatan untuk para pria mesti lebih diperhatikan, terutama jika sering mengalami stres. Karena, memiliki tingkat stres yang tinggi sama dengan telah memesan tiket kematian lebih awal.
Faktor biologis lain yang mempengaruhi adalah hormon: Hormon estrogen yang dimiliki perempuan menjadi salah satu pelindung alami dari perkembangan penyakit jantung, dan perubahan kondisi tubuh perempuan sepanjang hidupnya (menstruasi, kehamilan, beranak, menopause) membuat tubuh mereka secara internal lebih ‘tahan banting’. Sebaliknya, hormon testosteron yang dimiliki pria malahan mendorongnya untuk melakukan berbagai aktivitas yang membuat jantung makin jedag-jedug, misalnya saja merokok, menyetir ugal-ugalan, berkelahi, atau aktif berburu pasangan.
Lho, mencari pasangan? Ya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kompetisi memperebutkan betina bisa menguras energi para pejantan, dan akhirnya memperpendek umur mereka. Contohnya bisa kita lihat di dunia binatang, seperti domba jantan yang saling adu kepala untuk memperebutkan betina. Tapi itu kan binatang? Di dunia manusia juga terjadi hal yang serupa, meski lebih halus dan kompleks. Ambisi untuk menggapai karir dan status sosial yang tinggi –yang tentu saja menjadi ‘nilai jual’ di mata pasangan dan calon mertua– bisa dijadikan contoh. Menariknya, di dunia binatang sendiri ditemukan kalau umur pejantannya semakin pendek.

Semoga mencerahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jadilah orang bijak, untuk tidak spamming dalam komentar.

Copyright © Beranda Kita - Blogger Theme by BloggerThemes